Kamis, 20 September 2018

MAZHAB KUTUB

Perempuan yang Selalu
Kuciumi Tangannya di Dapur


perempuan yang selalu kuciumi tangannya di dapur
setiap kali aku pergi meninggalkannya
bau kencur, bawang, merica, serta asin garam
dapur yang selalu mengepulkan asap penderitaan
dari tungku pembakaran hasrat yang berkobar
piring-piring amis ikan, gelas-gelas kotor, sendok juga karatan
tapi ia setia mencucinya dengan air mata
merapikannya tanpa ada sesal di hatinya

2009


0rang-Orang Mengira

orang-orang mengira namaku namamu
namamu yang menenggelamkan namaku

orang-orang mengira aku berjalan di jalanmu
jalanmu yang tak pernah mempertemukan jalanku

orang-orang mengira mataku memandang matamu
matamu yang tak pernah memandang mataku

2009

Kubacakan Puisimu
:alm zainal arifin thoha

jam yang masih menetes perlahan
pada sebongkah malam yang kian pualam
aku tak bisa lagi menyimpan rahasia dingin
sampai kesendirian ini lesup
kubaca puisimu berulang-ulang
mengingatkan aku pada kematian

2009

Seusai Kepulanganmu

embun tak lagi meneteskan pagi
ketika daun-daun
lepas dari tangkai matahari

2008

Sehabis Memancing

walau hanya sepotong kepala ikan
perut terasa kenyang
karena tubuh ikan
kutitipkan pada yang kekal

2009

Rabu, 19 September 2018

BISIKAN KOTA

sepi tinggal tulang
hati berjalan
melewati bangkai
puisi
yang tertancap
dalam jiwa gelisah

maut!
seolah gonggongan
anjing
yang memanggil-manggil
peti jenazah

jerit hati menyalakan
api
di batu-batu
bertuliskan usia
yang kian melapuk
di ranjang bertabur
bisikan tentang kotamu
yang tak lagi mendengungkan
keindahan
bagi hari-hari
yang seperti selembar
kertas bertuliskan:
laknat!

tentang gelap bersiasat
membuntutui alamat
asing
juga anasir langit yang
murung

2010

BINGKAI DUNIA

dalam bingkai dunia: engkau menghilang
bersama suara gending dan alunan gong
memecah sunyi purba.
seperti nasib yang perlahan lenyap
ditelan mata lensa
di tangan perempuan berwajah masa lalu.

kini tinggal bunyi langkah kakimu
yang membisikkan surat-surat nasib, menunggu kilatan takdir
mengalungkan rangkaian bunga
di leher jenjang patung-patung keperihan.

sebab padamu aku akan kembali
dari arah jarak waktu persetubuhan warna darah, merah!
dan persekutuan api cinta yang membakar sejarah muasal terciptanya dunia.

pada dinginnya jiwa
yang tak ingin membuka pintu
bagi tamu-tamu suci, putih!
yang datang dari degup jantungku, dari gerak pemburuanku.

walau langkahku kian jauh
menuju kebun cintamu:
yang kau rawat, kau jaga dari segala bencana,
dari keheningan musim-musim yang menarik-narik tangan hasrat dunia.

walau diriku tidak pernah mengimpikan langkahku sampai di batas segala rahasia
yang diberkati getar keagungan makhluk suci yang bernama cinta.

cinta yang terlampau asing bagi takdir
meramalkan perselisihan kalimat api
membakar waktu, agar semuanya tak sia-sia
dalam jam yang tak pernah sepi menunggu gema sunyi di wajah lukisan kemuliaan
yang lenyap di telapak tangan cahaya.

2013

MEMBACA TAMAN

ambillah duri-duri itu
lalu tusukkan atas nama mawar
agar semerbak kesakitan
kembali beraroma keabadian

lalu ceritakan padaku tentang kumbang
agar semua kemungkinan datang
mereguk dengung musim
mengitari kebimbangan

selagi taman tak lagi bermakna pertemuan
menerbangkan putik-putik kerinduan
dari sisa kata yang kian tumbuh menjalar
mengikat erat peristiwa lampau

sebab harapan kian layu
dihinggapi kupu-kupu
yang ingin menjadi kepompong
seiring lebah-lebah lupa sarang

2011

HEWAN PELIHARAAN

ayam
pagi yang remang
warna tanah selembab embun
rumah-rumah cacing bermunculan
subuh pun menghilang dicakar ayam

sapi
suara sapi terdengar pelan dari dalam langgar
nafasnya menghilang diambil Tuhan
lenguh-lenguh lainnya bermunculan
dari sisi ratapannya yang menghilang

kambing
tiada hentinya mengembek
rumput-rumput tak juga tumbuh
sebelum kuping tetangga mengering
gugur, terkubur tai kambing

kucing
ikan-ikan habis kau makan
malah kau kawin dengan tikus berseragam
tapi jangan kau buang di pasar
takut diinjak-injak harga barang

kelinci
tiada henti menggali tanah
sampai lupa alamat rumah
lalu kau menghilang
yang kau tinggal hanya jalan kelam

2012

TANAH KELAHIRAN

kerinduan tak kunjung terucapkan
untuk menuliskan segala yang datang
sebab aku berjalan bukan untuk sampai
hanya untuk mencari ruang kosong
mencari keberadaan yang telah hilang
kesungguhan yang tak juga sungguh
menjalani hidup dalam kertas kosong

apalagi yang ingin dipersembahkan
pada udara kampung halaman
yang berhembus serupa angan
setajam ujung pena
menancap perih pada tubuh impian

rintihan kubalas senyum
semua memancar dari keringat kata
kata-kata hanya teriakan kemarahan
yang tak kunjung menemukan jawaban
sampai airmata melukai kesendirian
ketika serpihan cecabang hujan
menumbuhkan masa lampau

menjadi bekas kepak angsa
menorehkan kedewasaan
yang semakin memanjang
yang semakin melebar
yang semakin kekar
pada waktunya menusuk pulau

kita berlarian dengan tubuh telanjang
memagut hujan di tengah halaman
memeluk dingin di pancuran
sampai tawa hanyut di selokan
sampai di sungai-sungai
bermain dengan gelombang
bersamamu di siang beku
semu suaramu
sendu mengingat itu
serupa gigil getir yang tak tentu
teriakan hati tak lagi lirih
kita saling pandang
menatap titik impian
seperti sepasang kucing
mengunyah kegetiran
kita membagi hasrat
kesiur angin kian lembut
sampai kerdip ingatan bermekaran
mengundang senyum paling ngun-ngun
sampai doa-doa tersangkut di langit kelam
takdir seperti pertemuan sewaktu datang bulan

2011

KUCURI BINTANG

sampailah aku di sarangmu, yang telah lama kau tinggalkan: arsitektur dingin, buku-buku meratapi dirinya sendiri, foto-foto masa lalu, juga lukisan menggantung sendu, bangku-bangku memanah televisi, lemari bambu menjadi penghuni bagi ruang semu, ranjang-ranjang menggigil, kasur dan bantal selembut hati para penghuni. di kolammu, ikan-ikan mengitari teratai seolah membisikkan ketiandaanmu kini. setiap kali sajakku singgah di rumahmu bersama getirnya hujan, yang menyertai curahan nasib, mengantarkan diriku ke ruang sunyi semestamu; diam-diam kucuri bintang di bibir dedaunan namun tak juga berguguran seperti tangis kanak-kanak yang mengetuk pintu sejarah muasal persetubuhanku dengan buku-buku yang tak juga melahirkan benih-benih peristiwa baru. bagi bayang-banyang memba yang di ladang gersang ingatan. tempat bermula kesetian tertanam bersama terik matahari melebur lelah perjumpaan. 

Selasa, 18 September 2018

KEPADA FILOSOF

Sebelum aku gila,
Aku harus menemukan kegilaanku
Pada setiap pencarian,
Akan kutinggalkan diriku sendirian
Agar matiku tak hanya batu nisan kesepian
Di hamparan rerumputan

Bila tidak kutemukan kegilaanku
Maka jalan pikiran akan kugambar di mata kekasih
Ketika getar bibir mengisyaratkan
Bahwa matiku hanya untuk aku

Sebelum aku mati,
Perkenankan diriku memanggil
Apa saja yang telah dianggap sia-sia
Akan ku ajak berbincang-bincang
Tentang bumi dan air
yang ingin kutinggalkan dengan bahagia
Sambil kukecup luka dan membekukan airmata

Bila mereka tidak mendatangiku
Akan kubacakan sajak paling sedih
Tentang pagi yang lenyap
Bersama nama-nama yang pernah kucatat
Sebagai senjata

Karena gila dan matiku
Sama-sama tidak akan menemukan
Dimana sejarah dimulai,
Dimana kehancuran menyatu dalam
kibaran bendera

Sumenep, 2018

CANGKUL PATAH

Kuangkat cangkulku, kala malam hampir menyala dari ufuk berwarna Seperti semula orang-orang bangkit untuk menemui matahari Menggali tanah, mencium aroma tanah, berbisik dengan keluasan alam semesta Alam menggiring tanda pada setiap hempasan angin pada daun-daun Tanah yang merona seperti kekasihnya yang abadi Langit membawa ketidakterbatasan desir hangat darahnya Langit seolah memerah, bumi tempat istirah paling sunyi Kekal dalam humus, suci pada kelopak kamboja.

Kuangkat cangkulku, ketika matahari membentur bayang-bayang tubuhku yang patah. Ketika hening dan bening memancar dari kedalam mataku Ketika perempuan-perempuan kehausan, kedinginan Ketika peluh lanceng mengalir ke ruang-ruang gelap Ketika rumah tangga terbakar Ketika kegelapan mendatangiku dengan wajah setan.
Sampai langit tak ingin melihatku yang sendiri membawa cangkul patah.

Sumenep, 2018

BALADA KISAH ANAK NEGERI

kisah anak-anak kami yang hanya bisa mengambil batu untuk melempar mulutmu di layar televisi   nyanyian itu tak juga merdu menyentuh kalbu y...