Minggu, 15 Agustus 2021

BALADA KISAH ANAK NEGERI

kisah anak-anak kami yang

hanya bisa mengambil batu

untuk melempar mulutmu

di layar televisi

 

nyanyian itu tak juga merdu

menyentuh kalbu yang penuh debu

lebam berbatu-batu

daun-daun telinga anak-anak kami

berguguguran kembali

hanya bisa memejamkan mata

untuk hari esok

memandang wajah nasib

yang lebih baik lagi

anak-anak kami tak mampu lagi

untuk mendongakkan kepala

setinggi gedung-gedung bertingkat

karena tak percaya lagi bila di langit

masih ada bintang-bintang harapan

apalagi layang-layang menari-nari

menghapus awan kegetiran

sebab tetes airmata dan keringat

lebih berat dari patung garuda

yang terbuat dari emas 24 karat

dalam ruang menggelantung AC

berukuran rumah pemulung

dan lembaran-lembaran kertas

berisikan janji-janji palsu para pengikat

dasi yang terus mengaji ayat kursi-kursi

untuk dirinya sendiri

anak-anak kami

hanya bisa mengambil batu

untuk melempar mulutmu di layar televisi

sampai kesakitan jatuh di liang maut

yang telah lama digali

sepanjang dinginnya sejarah

membekukan kekuasaanmu

#

kisah seorang ibu tentang

anaknya yang bekerja

di salon terkenal dan akan

terbang ke bulan

pejalan kaki itu

kini telah berambut api

ingin sekali kupenggal kepalanya

walau dia anakku sendiri

yang lupa mengutuk diriku

menjadi lumut bahasa

yang menempel di tubuh puisinya

sebab sudah lama tak terdengar kabar

bila dia masih suka membakar salon

mengikat bulan di ketiak anjing

ketika menulis puisi pemberontakan

untuk dipersembahkan pada kekasihnya

yang masih suka memakai minyak wangi

yang baunya seperti tikus-tikus liar

yang semakin beranak pinak

karena rahim ibunya tak muat lagi

menampungnya bersama serangga

yang merayap di kursi ukiran pantat

penari telanjang yang menyuguhkan

susu murni, buatan ibu pertiwi

yang tertinggal di atas meja pengadilan

bila aku bertemu kembali

akan kupenggal kepalanya

dengan pisau cukur

agar bayangannya tetap hadir

menjaga diriku

yang masih menunggu

ia bekerja lagi di salon terkenal

lalu terbang ke bulan

untuk mengadukan puisinya

yang sebentar lagi gulung tikar

 #

kisah pantat puisi

yang tumbuh ekor

puisi orang yang juga

berekor puisi orang

bertahun-tahun diriku tersesat

dalam hutan kata-kata

bahasa tumbuh menjadi kemarung,

mawar, pohon jati, ada juga

yang tumbuh menjadi tiada

semuanya tumbuh menjadi ketakutan

yang semakin liar

meliliti semak-semak perasaan

udara sesal meraung-raung

serupa harimau

kesakitan bergelantungan

di dahan-dahan ingatan

dimana diriku sebenarnya?

bila makna tak ada jalan

untuk menemukan kejernihan

apalagi kata mereka:

pantat puisiku masih tumbuh ekor

puisi orang yang juga tumbuh ekor

puisi orang


2011


Tidak ada komentar:

BALADA KISAH ANAK NEGERI

kisah anak-anak kami yang hanya bisa mengambil batu untuk melempar mulutmu di layar televisi   nyanyian itu tak juga merdu menyentuh kalbu y...