Di masa yang serba sulit
Harapan terkadang kusut dan beringsut.
Wabah kembali hadir dengan keganasannya. Meneror mental yang sebenar-sebenarnya nyata.
Orang-orang kembali terdiam,
mamagut cahaya dalam kegelapan.
Alam tidak biasa-biasa saja,
namun menusia seringkali mempermainkan dunia.
Kulihat senyum anak-anak bermain
mengejar kucing hitam.
Kulihat jemari perempuan pencanting
menorehkan malan pada kain
Pola-pola motif sejarah kota, kampung-kampung yang sekarang dilockdown.
Oh, dunia kembali renta...
Penuh kerut dan tak lagi mempesona.
Bibir yang dulu merekah seperti kuncup bunga, kini tertutup masker.
Tubuh yang dulu gemulai, kini terkekang jarak sentuhan.
Maut seakan dirayakan di negeri ini
Setelah dibungkam ketidakpastian
Sirene menjerit-jerit sepanjang jalan
Menjemput mereka yang terpapar
Tangis pecah dirundung getir
Seolah terperangkap dalam gua asing.
Gema doa membentur dinding darah
Bayang-bayang muram di balik tirai
Raungan diri membuka pintu rohani
dan penguasa selalu menyadap air mata ini.
Ambulance, tolong bawalah pasien
yang terpapar virus korup!
Masukkan ke ruang isolasi jeruji besi
Suntikkan vaksin merah putih,
agar virus cepat-cepat teratasi
Sebelum mencekik tenggorokan,
menyumbat saluran nafas
dan membakar pembuluh darah.
Bansos dimutilasi, pilkada seolah peti mati
yang diusung menuju lubang menganga
Benih lobster ditelan monster jahat
Virus kian beranak pinak dan impor
dari negara tetangga.
Ambulance, tolong bawalah pasien
yang terpapar virus korup!
Antarkan ke jurang gelap
Tak ada pelayat menemui,
Selain tukang gali kubur berseragam
menancapkan batu nisan bertuliskan:
"KORUPTOR".
Semarang, 2021
Tidak ada komentar:
Posting Komentar