Rabu, 14 Juli 2021

LOCKDOWN


Di masa yang serba sulit

Harapan terkadang kusut dan beringsut.

Wabah kembali hadir dengan keganasannya. Meneror mental yang sebenar-sebenarnya nyata.


Orang-orang kembali terdiam,

mamagut cahaya  dalam kegelapan.

Alam tidak biasa-biasa saja,

namun menusia seringkali mempermainkan dunia.


Kulihat senyum anak-anak bermain

mengejar kucing hitam.

Kulihat jemari perempuan pencanting

menorehkan malan pada kain

Pola-pola motif sejarah kota, kampung-kampung yang sekarang dilockdown.


Oh, dunia kembali renta...

Penuh kerut dan tak lagi mempesona.

Bibir yang dulu merekah seperti kuncup bunga, kini tertutup masker.

Tubuh yang dulu gemulai, kini terkekang jarak sentuhan. 


Maut seakan dirayakan di negeri ini

Setelah dibungkam ketidakpastian

Sirene menjerit-jerit sepanjang jalan

Menjemput mereka yang terpapar

Tangis pecah dirundung getir

Seolah terperangkap dalam gua asing.


Gema doa membentur dinding darah

Bayang-bayang muram di balik tirai

Raungan diri membuka pintu rohani

dan penguasa selalu menyadap air mata ini.


Ambulance, tolong bawalah pasien

yang terpapar virus korup!

Masukkan ke ruang isolasi jeruji besi

Suntikkan vaksin merah putih,

agar virus cepat-cepat teratasi

Sebelum mencekik tenggorokan,

menyumbat saluran nafas

dan membakar pembuluh darah.


Bansos dimutilasi, pilkada seolah peti mati

yang diusung menuju lubang menganga

Benih lobster ditelan monster jahat

Virus kian beranak pinak dan impor 

dari negara tetangga.


Ambulance, tolong bawalah pasien

yang terpapar virus korup!

Antarkan ke jurang gelap

Tak ada pelayat menemui,

Selain tukang gali kubur berseragam

menancapkan batu nisan bertuliskan:

"KORUPTOR".


Semarang, 2021

Tidak ada komentar:

BALADA KISAH ANAK NEGERI

kisah anak-anak kami yang hanya bisa mengambil batu untuk melempar mulutmu di layar televisi   nyanyian itu tak juga merdu menyentuh kalbu y...