Kuda hitam memandang siang dari dalam
Menapaki waktu seiring dentuman masa laluku
Sebab tak ada cara untuk melarikan diri dari puisi
Ingatan semakin tua dan kegilaan memberat di kepala
Puisi selalu menjemput dengan kaki kursi yang tetap kokoh
Dalam lingkaran zaman yang seperti lelucon
di alam pekuburan kebangsaan
Kotaku melihat dirinya sendiri
Seperti kuda buta di jalan-jalan yang menghubungkan angin pada debu
Kotaku mulai berdandan dengan paras khianat
Keindahan nampak di mata, namun tak terlihat wajah makna
Biarkan puisi membawaku ke asal ada
Dengan alam dan cinta kasihnya
Sebab asap pekat bahasa, telah lama mengalungkan dukanya.
2016
Menapaki waktu seiring dentuman masa laluku
Sebab tak ada cara untuk melarikan diri dari puisi
Ingatan semakin tua dan kegilaan memberat di kepala
Puisi selalu menjemput dengan kaki kursi yang tetap kokoh
Dalam lingkaran zaman yang seperti lelucon
di alam pekuburan kebangsaan
Kotaku melihat dirinya sendiri
Seperti kuda buta di jalan-jalan yang menghubungkan angin pada debu
Kotaku mulai berdandan dengan paras khianat
Keindahan nampak di mata, namun tak terlihat wajah makna
Biarkan puisi membawaku ke asal ada
Dengan alam dan cinta kasihnya
Sebab asap pekat bahasa, telah lama mengalungkan dukanya.
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar