Rabu, 19 September 2018

KUCURI BINTANG

sampailah aku di sarangmu, yang telah lama kau tinggalkan: arsitektur dingin, buku-buku meratapi dirinya sendiri, foto-foto masa lalu, juga lukisan menggantung sendu, bangku-bangku memanah televisi, lemari bambu menjadi penghuni bagi ruang semu, ranjang-ranjang menggigil, kasur dan bantal selembut hati para penghuni. di kolammu, ikan-ikan mengitari teratai seolah membisikkan ketiandaanmu kini. setiap kali sajakku singgah di rumahmu bersama getirnya hujan, yang menyertai curahan nasib, mengantarkan diriku ke ruang sunyi semestamu; diam-diam kucuri bintang di bibir dedaunan namun tak juga berguguran seperti tangis kanak-kanak yang mengetuk pintu sejarah muasal persetubuhanku dengan buku-buku yang tak juga melahirkan benih-benih peristiwa baru. bagi bayang-banyang memba yang di ladang gersang ingatan. tempat bermula kesetian tertanam bersama terik matahari melebur lelah perjumpaan. 

Tidak ada komentar:

BALADA KISAH ANAK NEGERI

kisah anak-anak kami yang hanya bisa mengambil batu untuk melempar mulutmu di layar televisi   nyanyian itu tak juga merdu menyentuh kalbu y...