Kuangkat cangkulku, kala malam hampir menyala dari ufuk berwarna
Seperti semula orang-orang bangkit untuk menemui matahari
Menggali tanah, mencium aroma tanah, berbisik dengan keluasan alam semesta
Alam menggiring tanda pada setiap hempasan angin pada daun-daun
Tanah yang merona seperti kekasihnya yang abadi
Langit membawa ketidakterbatasan desir hangat darahnya
Langit seolah memerah, bumi tempat istirah paling sunyi
Kekal dalam humus, suci pada kelopak kamboja.
Kuangkat cangkulku, ketika matahari membentur
bayang-bayang tubuhku yang patah.
Ketika hening dan bening memancar dari kedalam mataku
Ketika perempuan-perempuan kehausan, kedinginan
Ketika peluh lanceng mengalir ke ruang-ruang gelap
Ketika rumah tangga terbakar
Ketika kegelapan mendatangiku dengan wajah setan.
Sampai langit tak ingin melihatku yang sendiri
membawa cangkul patah.
Sumenep, 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar