Selasa, 18 September 2018

CANGKUL PATAH

Kuangkat cangkulku, kala malam hampir menyala dari ufuk berwarna Seperti semula orang-orang bangkit untuk menemui matahari Menggali tanah, mencium aroma tanah, berbisik dengan keluasan alam semesta Alam menggiring tanda pada setiap hempasan angin pada daun-daun Tanah yang merona seperti kekasihnya yang abadi Langit membawa ketidakterbatasan desir hangat darahnya Langit seolah memerah, bumi tempat istirah paling sunyi Kekal dalam humus, suci pada kelopak kamboja.

Kuangkat cangkulku, ketika matahari membentur bayang-bayang tubuhku yang patah. Ketika hening dan bening memancar dari kedalam mataku Ketika perempuan-perempuan kehausan, kedinginan Ketika peluh lanceng mengalir ke ruang-ruang gelap Ketika rumah tangga terbakar Ketika kegelapan mendatangiku dengan wajah setan.
Sampai langit tak ingin melihatku yang sendiri membawa cangkul patah.

Sumenep, 2018

Tidak ada komentar:

BALADA KISAH ANAK NEGERI

kisah anak-anak kami yang hanya bisa mengambil batu untuk melempar mulutmu di layar televisi   nyanyian itu tak juga merdu menyentuh kalbu y...