dalam bingkai dunia: engkau menghilang
bersama suara gending dan alunan gong
memecah sunyi purba.
seperti nasib yang perlahan lenyap
ditelan mata lensa
di tangan perempuan berwajah masa lalu.
seperti nasib yang perlahan lenyap
ditelan mata lensa
di tangan perempuan berwajah masa lalu.
kini tinggal bunyi langkah kakimu
yang membisikkan surat-surat nasib, menunggu kilatan takdir
mengalungkan rangkaian bunga
di leher jenjang patung-patung keperihan.
yang membisikkan surat-surat nasib, menunggu kilatan takdir
mengalungkan rangkaian bunga
di leher jenjang patung-patung keperihan.
sebab padamu aku akan kembali
dari arah jarak waktu persetubuhan warna darah, merah!
dan persekutuan api cinta yang membakar sejarah muasal terciptanya dunia.
dari arah jarak waktu persetubuhan warna darah, merah!
dan persekutuan api cinta yang membakar sejarah muasal terciptanya dunia.
pada dinginnya jiwa
yang tak ingin membuka pintu
bagi tamu-tamu suci, putih!
yang datang dari degup jantungku, dari gerak pemburuanku.
yang tak ingin membuka pintu
bagi tamu-tamu suci, putih!
yang datang dari degup jantungku, dari gerak pemburuanku.
walau langkahku kian jauh
menuju kebun cintamu:
yang kau rawat, kau jaga dari segala bencana,
dari keheningan musim-musim yang menarik-narik tangan hasrat dunia.
menuju kebun cintamu:
yang kau rawat, kau jaga dari segala bencana,
dari keheningan musim-musim yang menarik-narik tangan hasrat dunia.
walau diriku tidak pernah mengimpikan langkahku sampai di batas segala rahasia
yang diberkati getar keagungan makhluk suci yang bernama cinta.
cinta yang terlampau asing bagi takdir
meramalkan perselisihan kalimat api
meramalkan perselisihan kalimat api
membakar waktu, agar semuanya tak sia-sia
dalam jam yang tak pernah sepi menunggu gema sunyi di wajah lukisan kemuliaan
yang lenyap di telapak tangan cahaya.
dalam jam yang tak pernah sepi menunggu gema sunyi di wajah lukisan kemuliaan
yang lenyap di telapak tangan cahaya.
2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar