Rabu, 19 September 2018

TANAH KELAHIRAN

kerinduan tak kunjung terucapkan
untuk menuliskan segala yang datang
sebab aku berjalan bukan untuk sampai
hanya untuk mencari ruang kosong
mencari keberadaan yang telah hilang
kesungguhan yang tak juga sungguh
menjalani hidup dalam kertas kosong

apalagi yang ingin dipersembahkan
pada udara kampung halaman
yang berhembus serupa angan
setajam ujung pena
menancap perih pada tubuh impian

rintihan kubalas senyum
semua memancar dari keringat kata
kata-kata hanya teriakan kemarahan
yang tak kunjung menemukan jawaban
sampai airmata melukai kesendirian
ketika serpihan cecabang hujan
menumbuhkan masa lampau

menjadi bekas kepak angsa
menorehkan kedewasaan
yang semakin memanjang
yang semakin melebar
yang semakin kekar
pada waktunya menusuk pulau

kita berlarian dengan tubuh telanjang
memagut hujan di tengah halaman
memeluk dingin di pancuran
sampai tawa hanyut di selokan
sampai di sungai-sungai
bermain dengan gelombang
bersamamu di siang beku
semu suaramu
sendu mengingat itu
serupa gigil getir yang tak tentu
teriakan hati tak lagi lirih
kita saling pandang
menatap titik impian
seperti sepasang kucing
mengunyah kegetiran
kita membagi hasrat
kesiur angin kian lembut
sampai kerdip ingatan bermekaran
mengundang senyum paling ngun-ngun
sampai doa-doa tersangkut di langit kelam
takdir seperti pertemuan sewaktu datang bulan

2011

Tidak ada komentar:

BALADA KISAH ANAK NEGERI

kisah anak-anak kami yang hanya bisa mengambil batu untuk melempar mulutmu di layar televisi   nyanyian itu tak juga merdu menyentuh kalbu y...