Senin, 25 Januari 2021

MELAWAT PUISI LALABET

(Dalam Puisi “Lalabet” Karya F Rizal Alief)


Dari mana ide puitik itu datang? Apakah kita harus menapaki dunia khayali tentang kenangan, pengalaman, dan dunia rekaan kita sendiri. Tinggal bagaimana semua itu ditangkap dan dibumbui dengan kegalauaan, kesengsaraan, dan ambisi-ambisi kebencian yang bersarang dalam diri. Lalu dituliskan tanpa memastikan seberapa kuat yang akan kita angkat dalam bentuk karya sastra (puisi). Namun dengan perenungan atas jiwa-jiwa realitas dan kehampaan diri agar puisi yang kita ciptakan tidak mati dan hilang dalam lingkaran zaman yang tak pernah pasti.


Seperti puisi “Lalabet”, karya F Rizal Alief yang mengingatkan kita tentang kepergian (maut) dan kedatangan. Walau pun sebenarnya dua kata itu tidak ada perbedaannya. Baik kematian itu sendiri atau kelahiran yang menuntut untuk menunggu giliran semata. Ketika keabadian berusaha untuk menjaga atas apa yang ada dalam keyakinan di setiap makhluk untuk tetap pasrah dan tunduk pada takdir. Pada waktu yang selalu setia menemani untuk selalu bertemu dengan segala hal, dengan segala bentuk keagungan yang hadir dalam setiap diri. Walau kematian itu sendiri bukanlah akhir dari pengembaraan suatu pengharapan atas segala yang hidup. Hidup yang sebenarnya penuh dengan liang maut yang tidak hanya difahami dengan terpisahnya ruh dari raga.


Untuk menemukan makna utuh dalam puisi FRA, saya sedikit berusaha masuk dengan memasuki pengimajian atau citraan. Ketika membaca puisi FRA, saya sebagai pembaca seakan disuguhkan sebuah cerita sederhana yang berjalan pelan-pelan menuju liang masa laluku di kampung halaman. Tentang solidaritas untuk sama-sama saling meleburkan diri pada suatu persoalanan. Baik masalah kepergian (Maut) atau kejadian-kejadian yang terkesan penuh dengan perayaan (pesta). Masyarakat yang taat dalam beragama dan mempunyai kesadaran yang luas tentang hidup bersama. Sebab kesedihan, penderitaan, dan kematian seseorang tidak lagi menjadi milik individu, melainkan telah menjadi milik bersama.


Sebuah bentuk dari rasa solidaritas masyarakat kampung yang sangat antosias ketika ada tetangga atau kerabat yang dilanda musibah atau sedang mendapatkan kebahagian. Setiap individu ada banyak cara untuk bisa ikut berpartisipasi. Dari yang hanya cukup melawat untuk menghibur keluarga yang tertimpa musibah, mendoakan almarhum (ah), ada juga yang hanya mempersiapkan segala kebutuhan ketika prosesi pemakaman dan doa bersama di kediaman keluarga yang bersangkutan. Tercermin dalam tiga bait puisi di bawah ini:


Lalu kami mengunjungi rumah duka

sebagai anak dan orang tua

sebagai saudara

sebagai pasangan yang selalu muda

sebagai orang yang pernah hidup bersama

dalam suka-duka

atau sebagai seseorang yang tak pernah ada luka.


Sebagian dari kami membawa cangkul dan sabit pergi menggali kuburan

setiap hentakan

kami mendengar desau kematian,

keringat menetes perlahan

melubangi keperkasaan

yang tak lebih dalam dari sejengkal galian


sebagian yang lain datang menyunggi beras dan pisau dapur

untuk menutup lubang-lubang air mata

dan memotong gelombagnnya.


Pendekatan realitas sosial dengan alam gaib memang sangat baik untuk membawa pembaca ke dalam dua dunia yang berbeda. Ruang-ruang yang tidak terhingga yang akan menemukan keindahan yang tidak hanya pada citraan-citraan yang dibangun dalam setiap ungkapan. Seperti rumah yang tidak lagi bermakna rumah yang kita ketahui, tapi jauh lebih luas, dalam dan menjadi sebuah wilayah yang tidak bisa terjangkau oleh panca indra. Jarak yang tidak bisa dijangkau secara definitif, apa pun intrumen ilmiah yang digunakan untuk mencarinya. Berbeda bila hanya sebuah tanda-tanda yang terjadi pada setiap peristiwa yang dihadapi. Pada diri yang tidak lagi menjadi seorang diri bagi lingkungan yang membentuk jalinan kisah hidup. Meleburkan diri menjadi suka-duka orang di sekitar.


Walau sepintas puisi FRA sangat lugas atau gampang untuk dimengerti, diparafrasekan, dan dihayati kembali sebagai penggambaran ulang dari realitas yang telah biasa dilakukan oleh masyarakat pada umumnya. Puisi yang terkesan prosaik karena puisi mempunyai alur cerita yang jelas dan bentangan waktu yang cukup panjang ketika mengabarkan sebuah peristiwa yang dialami oleh penyairnya.


Puisi FRA, seperti mata yang sedang melihat replika Rumah dalam kaca. Penyair hanya bisa mencitrakan persoalan-persoalan yang terlihat saja, namun tidak bisa mengukur seberapa panjang dan luasnya sebuah bangunan realitas yang dilihatnya. Seolah realitas yang pandang dari replika rumah tidak bisa dijelmakan atau dihadirkan dengan bentuk yang berbeda. Hanya saja terlihat bagaimana aktor-aktor bergerak dalam waktu jauh menghadapi persoalan itu. Sebuah citraan sikologis, daun-daun jatuh, jendela dan pintu, batu, dan lain kebagainaya.

Tidak ada komentar:

BALADA KISAH ANAK NEGERI

kisah anak-anak kami yang hanya bisa mengambil batu untuk melempar mulutmu di layar televisi   nyanyian itu tak juga merdu menyentuh kalbu y...