Senin, 25 Januari 2021

PUISI SIAP SANTAP DAN PERJAMUAN SEDERHANA

(Membaca “Perihal Kebingungan Kita Pada Nasib” Puisi Slendang Sulaiman)


Manusia selalu dibenturkan dengan kebingungan-kebingungannya sendiri ketika menghadapi masalah yang menderanya di setiap waktu dan hari-harinya. Kebingungan yang terkadang membutuhkan teman berbagi atau tidak butuh siapa pun selain dirinya sendiri di dalam sebuah perjamuan untuk mendengarkan suara-suara yang didengarnya dari segala penjuru. Baik kabar itu datang dari teman se ngopi, se organisasi se mantan, se pacar atau pun media lainnya. Walau dalam sebuah perjamuan tidaklah semuanya suci, berarti dan kebenaran tidak selalu benar, namun kemunafikan yang sampai detik ini masih bisa kita lihat, dengar dan dirasakan bersama-sama dari mulut para penguasa di negeri ini.


Di mana kesederhanaan ungkapan menghadirkan gambara abstrak dari kekejaman penguasa dan derita bangsa yang katanya merdeka. Seperti yang tergambar dalam puisi Slendang yang sempat kubaca dan berusaha menyelaminya sambil mendengarkan instrumen Balkans–A Mazika, Vanessa Mae–Clasical Gas dan Bach–B randenburg Conceto. Sungguh indah pagi yang penuh nada-nada cinta dan hentakan jiwa.


Dalam puisi Slendang saya banyak menemukan asosiasi dari kata sifat, kata kerja, ajakan, dan seruan seperti yang sering kita dengar dari curhat-curhat manusia yang terjangkit virus kegalauan. Puisi yang menghadirkan senyuman, kopi dan rokok, untuk sejenak melupakan sesuatu yang sebenarnya sangat berat bila hanya dipikirkan oleh seorang diri (Slendang). dan sejenak untuk melupakan akan masa depan yang lebih indah, tidak seperti apa yang dipikirkan. Bagaimana seorang “Nun” bisa memberikan jalan keluar bagi jalan hidup yang lebih tenang, terang, penuh keintiman dalam kemesraan cinta yang begitu Agung. Namun puisi tidak seperti percumbuan sederhana ide, pengimajian, memilih metafor, dan bagaimana cara mengungkapkan tentang sesuatu yang terasa perlu atau menyiksa batin.


Dari hasil percumbuan penyair tidak hanya melahirkan benda-benda yang tidak lagi menjadi sesuatu yang hidup kembali. Atau hanya terkesan menegaskan akan cita rasa atau hanya sekedar fungsi dari sebuah benda itu sendiri. Seperti pada bait ke tiga di bawah ini:


nun, cigaret + secangkir kopi setidaknya dapat mengikis

kebingungan kita yang akut. meski di koran dan televisi

penderitaan demi penderitaan digelar dengan kemewahan


Puisi Slendang mencoba membenturkan persoalan sehari-hari dengan persoalan kebangsaan yang mungkin sudah banyak diketahuinya. Namun penyair tidak berani atau sengaja dalam puisi tidak meneriakkan keluh kesahnya dengan lantang, penuh kobaran api, penuh teror, apalagi darah. Penyair memilih nuansa kemesraan, keharmunisan sebagai lelaki yang menunggu kekasihnya datang menemuinya di sebuah warung kopi. Di mana kemabukan ungkapan, loncatan imaji, dan rima menjadi campur aduk. Sebab nasib puisi dan hidup tidak bisa ditunggu seperti gorengan yang dipesan di kasir yang cantik itu. Puisi hanya akan menjadi gorengan siap santap di atas piring kebingungan, ketakutan, kekalahan dalam menghadapi dunia yang serba menu dan harga mati. Sekian.


*Pendapat sendiri. Sekedar meramaikan diskusi Komunitas RUDAL, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

BALADA KISAH ANAK NEGERI

kisah anak-anak kami yang hanya bisa mengambil batu untuk melempar mulutmu di layar televisi   nyanyian itu tak juga merdu menyentuh kalbu y...