Senin, 19 Juli 2021

HAI, LELAKI



Hai, lelaki...

Apa yang kau siram di taman ini?

Apakah kau kira bunga itu kekasihmu?

Taman yang hijau oleh rumput-rumput dan pepohonan rindang.

Kau siram dengan aliran air mata yang bersumber dari lubuk hatimu.

Lalu suara sapu terseret-seret di jalan setapak, seperti suàra batin terdalammu.

Kicau burung di dahan-dahan dan gugur dedaunan dari ranting patah, seperti kepak mimpimu untuk menjumpai kekasih.

Tak ada lelah mengajakmu berhenti

Memandangi keindahan taman impianmu.


Hai, lelaki...

Apa yang kau cari di kolam keruh itu?

Gemericik air dan kecipak ikan seolah berenang ke segala kenangan masa lalumu.

Apakah terbayang wajah kekasihmu?

Hanya kerut dahimu sendiri yang tergambar

Di taman tak ada keindahan yang benar-benar indah

Hanya dalam hati dan pikiranmu yang selalu menuju kepadanya.

Seolah tergambar sketsa kelopak mata bunga yang kaucium semerbaknya.


Hai, lelaki....

Apa yang kauraba di kegelapan?

Hanya dalam cahaya, bayangan akan hadir di sisimu

Tak bisa kau temukan seseorang dalam dirimu.

Sebelum kau temukan bayanganmu sendiri dalam gelap malam gulita.

Ketika kau hidupkan tanju untuknya.

Cahaya sempurna, akan selalu menemuimu sepanjang masa.


Jufrizaituna, 2021

Rabu, 14 Juli 2021

LOCKDOWN


Di masa yang serba sulit

Harapan terkadang kusut dan beringsut.

Wabah kembali hadir dengan keganasannya. Meneror mental yang sebenar-sebenarnya nyata.


Orang-orang kembali terdiam,

mamagut cahaya  dalam kegelapan.

Alam tidak biasa-biasa saja,

namun menusia seringkali mempermainkan dunia.


Kulihat senyum anak-anak bermain

mengejar kucing hitam.

Kulihat jemari perempuan pencanting

menorehkan malan pada kain

Pola-pola motif sejarah kota, kampung-kampung yang sekarang dilockdown.


Oh, dunia kembali renta...

Penuh kerut dan tak lagi mempesona.

Bibir yang dulu merekah seperti kuncup bunga, kini tertutup masker.

Tubuh yang dulu gemulai, kini terkekang jarak sentuhan. 


Maut seakan dirayakan di negeri ini

Setelah dibungkam ketidakpastian

Sirene menjerit-jerit sepanjang jalan

Menjemput mereka yang terpapar

Tangis pecah dirundung getir

Seolah terperangkap dalam gua asing.


Gema doa membentur dinding darah

Bayang-bayang muram di balik tirai

Raungan diri membuka pintu rohani

dan penguasa selalu menyadap air mata ini.


Ambulance, tolong bawalah pasien

yang terpapar virus korup!

Masukkan ke ruang isolasi jeruji besi

Suntikkan vaksin merah putih,

agar virus cepat-cepat teratasi

Sebelum mencekik tenggorokan,

menyumbat saluran nafas

dan membakar pembuluh darah.


Bansos dimutilasi, pilkada seolah peti mati

yang diusung menuju lubang menganga

Benih lobster ditelan monster jahat

Virus kian beranak pinak dan impor 

dari negara tetangga.


Ambulance, tolong bawalah pasien

yang terpapar virus korup!

Antarkan ke jurang gelap

Tak ada pelayat menemui,

Selain tukang gali kubur berseragam

menancapkan batu nisan bertuliskan:

"KORUPTOR".


Semarang, 2021

BALADA KISAH ANAK NEGERI

kisah anak-anak kami yang hanya bisa mengambil batu untuk melempar mulutmu di layar televisi   nyanyian itu tak juga merdu menyentuh kalbu y...