Hai, lelaki...
Apa yang kau siram di taman ini?
Apakah kau kira bunga itu kekasihmu?
Taman yang hijau oleh rumput-rumput dan pepohonan rindang.
Kau siram dengan aliran air mata yang bersumber dari lubuk hatimu.
Lalu suara sapu terseret-seret di jalan setapak, seperti suàra batin terdalammu.
Kicau burung di dahan-dahan dan gugur dedaunan dari ranting patah, seperti kepak mimpimu untuk menjumpai kekasih.
Tak ada lelah mengajakmu berhenti
Memandangi keindahan taman impianmu.
Hai, lelaki...
Apa yang kau cari di kolam keruh itu?
Gemericik air dan kecipak ikan seolah berenang ke segala kenangan masa lalumu.
Apakah terbayang wajah kekasihmu?
Hanya kerut dahimu sendiri yang tergambar
Di taman tak ada keindahan yang benar-benar indah
Hanya dalam hati dan pikiranmu yang selalu menuju kepadanya.
Seolah tergambar sketsa kelopak mata bunga yang kaucium semerbaknya.
Hai, lelaki....
Apa yang kauraba di kegelapan?
Hanya dalam cahaya, bayangan akan hadir di sisimu
Tak bisa kau temukan seseorang dalam dirimu.
Sebelum kau temukan bayanganmu sendiri dalam gelap malam gulita.
Ketika kau hidupkan tanju untuknya.
Cahaya sempurna, akan selalu menemuimu sepanjang masa.
Jufrizaituna, 2021