Rabu, 19 September 2018

KUCURI BINTANG

sampailah aku di sarangmu, yang telah lama kau tinggalkan: arsitektur dingin, buku-buku meratapi dirinya sendiri, foto-foto masa lalu, juga lukisan menggantung sendu, bangku-bangku memanah televisi, lemari bambu menjadi penghuni bagi ruang semu, ranjang-ranjang menggigil, kasur dan bantal selembut hati para penghuni. di kolammu, ikan-ikan mengitari teratai seolah membisikkan ketiandaanmu kini. setiap kali sajakku singgah di rumahmu bersama getirnya hujan, yang menyertai curahan nasib, mengantarkan diriku ke ruang sunyi semestamu; diam-diam kucuri bintang di bibir dedaunan namun tak juga berguguran seperti tangis kanak-kanak yang mengetuk pintu sejarah muasal persetubuhanku dengan buku-buku yang tak juga melahirkan benih-benih peristiwa baru. bagi bayang-banyang memba yang di ladang gersang ingatan. tempat bermula kesetian tertanam bersama terik matahari melebur lelah perjumpaan. 

Selasa, 18 September 2018

KEPADA FILOSOF

Sebelum aku gila,
Aku harus menemukan kegilaanku
Pada setiap pencarian,
Akan kutinggalkan diriku sendirian
Agar matiku tak hanya batu nisan kesepian
Di hamparan rerumputan

Bila tidak kutemukan kegilaanku
Maka jalan pikiran akan kugambar di mata kekasih
Ketika getar bibir mengisyaratkan
Bahwa matiku hanya untuk aku

Sebelum aku mati,
Perkenankan diriku memanggil
Apa saja yang telah dianggap sia-sia
Akan ku ajak berbincang-bincang
Tentang bumi dan air
yang ingin kutinggalkan dengan bahagia
Sambil kukecup luka dan membekukan airmata

Bila mereka tidak mendatangiku
Akan kubacakan sajak paling sedih
Tentang pagi yang lenyap
Bersama nama-nama yang pernah kucatat
Sebagai senjata

Karena gila dan matiku
Sama-sama tidak akan menemukan
Dimana sejarah dimulai,
Dimana kehancuran menyatu dalam
kibaran bendera

Sumenep, 2018

CANGKUL PATAH

Kuangkat cangkulku, kala malam hampir menyala dari ufuk berwarna Seperti semula orang-orang bangkit untuk menemui matahari Menggali tanah, mencium aroma tanah, berbisik dengan keluasan alam semesta Alam menggiring tanda pada setiap hempasan angin pada daun-daun Tanah yang merona seperti kekasihnya yang abadi Langit membawa ketidakterbatasan desir hangat darahnya Langit seolah memerah, bumi tempat istirah paling sunyi Kekal dalam humus, suci pada kelopak kamboja.

Kuangkat cangkulku, ketika matahari membentur bayang-bayang tubuhku yang patah. Ketika hening dan bening memancar dari kedalam mataku Ketika perempuan-perempuan kehausan, kedinginan Ketika peluh lanceng mengalir ke ruang-ruang gelap Ketika rumah tangga terbakar Ketika kegelapan mendatangiku dengan wajah setan.
Sampai langit tak ingin melihatku yang sendiri membawa cangkul patah.

Sumenep, 2018

BALADA KISAH ANAK NEGERI

kisah anak-anak kami yang hanya bisa mengambil batu untuk melempar mulutmu di layar televisi   nyanyian itu tak juga merdu menyentuh kalbu y...