Jumat, 21 September 2018

ODE RANTAU

-ayah
kesendirian adalah batu
batu-batu menjadi diriku
terlempar jauh aku
membentur kenakalan
menyumbat aliran comberan tetangga
sampai genangan tangisan beraroma kebencian

ayah yang tak tabah mendengar jeritan
dari sobekan gendongan
yang telah menancap duri-duri jeruk
terlempar jauh aku di pemakaman yang lengang
di sanalah malam menjadi teman paling siang

-nenek
darah yang kau semburkan dari mulut tersumpal sirih,
kapur dan sekerat pinang tua
yang kau ambil sendiri dari pohon doa suci
meski dinding semerah saga
memercik pada kaki bergetar
yang tak kuat lagi memelukmu
walau hanya bayang-bayang saja

-kakek
tidurmu akan menemukan mimpi
yang telah lama menunggu
sewaktu siang kembali berharap malam  
untuk menangkap batu-batu naga
yang telah lepas dari tangan rahasia


kebisingan kembali tumbang
oleh derap langkah para penghamba
datang mengadukan bulan padam
merangkaki tangga-tangga dalam
mendekap tubuh sampai runtuh
atap langit terkuak pasrah

segerombolan angin meliuk-liuk
menyeret asap kegaiban
pada matamu yang terbuta lebar
melihat arah ketersesatan cahaya
lalu kau hidup di pusat kegelapan

keteduhan tak pernah kau temui
melempar siang menjadi malam
sampai tubuh terhempas ke langit
menjadi gerimis
menusuk padang kata
hingga tumbuh benih impian
merengkuh jiwa
yang telah lama tiada
meski batu-batu duka pergi
namun selalu kembali

-kakak
telah kau akhiri dibatas waktu yang telah tiba
kau pergi membawa bulan
tidur setenang wajah malam
melupakan terik matahari
menaruh terik abu-abu jasad terbakar
oleh peristiwa sisa usia
dan nama-nama hari yang berbeda

semoga engkau
setenang senyu takbir
membalut doa-doa cucu
ayat-ayat suci meliliti pusara
yang terbujur kaku ditengah sepi

2011

BUNGA DARAH

harum bunga percumbuan
semakin merasuki otak bergentayangan
bersama segerombolan nafas panjang
menarik-narik jantung
seperti serigala merangkak
mengusung nasib buruk
meski berulangkali menelan sepi
tubuh menyala-nyala
membuka kebisuan tirai asmara

kehangatan kembali telanjang
mencipta bunga-bunga darah bermekaran
menyalakan menara hati di ujung dingin
menusuk mata yang begitu nyata
memandang kenyataan yang begitu hampa
sampai teriakan seperti langkah kabut
menyembunyikan rahasia kesenyapan
yang begitu runcing menusuk dusta

teriakan kembali lenyap dalam ketakutan
sampai segalanya menjauh
dari tangan-tangan besi
kesakitan meloncat-loncat
bergegas pergi
benda-benda seolah hantu
yang semakin nampak
dalam kemurungan puisi
bergumam tentang kutukan
lewat celah jendela yang terus terbuka
mengintip kegelapan

2011

PELAYARAN PANJANG


apakah kepergianku akan membawa kedatanganku juga?
sewaktu badai, angin, dan ombak mengantarkan diriku
ke dermaga kenyataan yang sebenarnya tak nyata
bagi kenyataanku yang hampa

kenangan menjadi remang-remang
hanya menjadi kata-kata asing
di mana matahari berulangkali menanam benih cahayanya
menumbuhkan kembali senja di bibirnya

mengembalikan ingatan tentang pelayaran panjang
menuju kepulangan lain, setiap kali sentuhan dingin
dan teriakan camar dari seberang
menerpa layar perahu mimpiku yang oleng

seperti merangkaki bukit-bukit berbatu, terjal penuh liku
hutan-hutan liar pikiran harimau, mengaum,
menyeret usia yang rumpang
antara batas pengasingan dan jejak pengembaraan
seketika hadir seperti angin
yang mengubur wasiat hidup
yang hanya mengulang cerita duka

2010

Kamis, 20 September 2018

MAZHAB KUTUB

Perempuan yang Selalu
Kuciumi Tangannya di Dapur


perempuan yang selalu kuciumi tangannya di dapur
setiap kali aku pergi meninggalkannya
bau kencur, bawang, merica, serta asin garam
dapur yang selalu mengepulkan asap penderitaan
dari tungku pembakaran hasrat yang berkobar
piring-piring amis ikan, gelas-gelas kotor, sendok juga karatan
tapi ia setia mencucinya dengan air mata
merapikannya tanpa ada sesal di hatinya

2009


0rang-Orang Mengira

orang-orang mengira namaku namamu
namamu yang menenggelamkan namaku

orang-orang mengira aku berjalan di jalanmu
jalanmu yang tak pernah mempertemukan jalanku

orang-orang mengira mataku memandang matamu
matamu yang tak pernah memandang mataku

2009

Kubacakan Puisimu
:alm zainal arifin thoha

jam yang masih menetes perlahan
pada sebongkah malam yang kian pualam
aku tak bisa lagi menyimpan rahasia dingin
sampai kesendirian ini lesup
kubaca puisimu berulang-ulang
mengingatkan aku pada kematian

2009

Seusai Kepulanganmu

embun tak lagi meneteskan pagi
ketika daun-daun
lepas dari tangkai matahari

2008

Sehabis Memancing

walau hanya sepotong kepala ikan
perut terasa kenyang
karena tubuh ikan
kutitipkan pada yang kekal

2009

Rabu, 19 September 2018

BISIKAN KOTA

sepi tinggal tulang
hati berjalan
melewati bangkai
puisi
yang tertancap
dalam jiwa gelisah

maut!
seolah gonggongan
anjing
yang memanggil-manggil
peti jenazah

jerit hati menyalakan
api
di batu-batu
bertuliskan usia
yang kian melapuk
di ranjang bertabur
bisikan tentang kotamu
yang tak lagi mendengungkan
keindahan
bagi hari-hari
yang seperti selembar
kertas bertuliskan:
laknat!

tentang gelap bersiasat
membuntutui alamat
asing
juga anasir langit yang
murung

2010

BINGKAI DUNIA

dalam bingkai dunia: engkau menghilang
bersama suara gending dan alunan gong
memecah sunyi purba.
seperti nasib yang perlahan lenyap
ditelan mata lensa
di tangan perempuan berwajah masa lalu.

kini tinggal bunyi langkah kakimu
yang membisikkan surat-surat nasib, menunggu kilatan takdir
mengalungkan rangkaian bunga
di leher jenjang patung-patung keperihan.

sebab padamu aku akan kembali
dari arah jarak waktu persetubuhan warna darah, merah!
dan persekutuan api cinta yang membakar sejarah muasal terciptanya dunia.

pada dinginnya jiwa
yang tak ingin membuka pintu
bagi tamu-tamu suci, putih!
yang datang dari degup jantungku, dari gerak pemburuanku.

walau langkahku kian jauh
menuju kebun cintamu:
yang kau rawat, kau jaga dari segala bencana,
dari keheningan musim-musim yang menarik-narik tangan hasrat dunia.

walau diriku tidak pernah mengimpikan langkahku sampai di batas segala rahasia
yang diberkati getar keagungan makhluk suci yang bernama cinta.

cinta yang terlampau asing bagi takdir
meramalkan perselisihan kalimat api
membakar waktu, agar semuanya tak sia-sia
dalam jam yang tak pernah sepi menunggu gema sunyi di wajah lukisan kemuliaan
yang lenyap di telapak tangan cahaya.

2013

MEMBACA TAMAN

ambillah duri-duri itu
lalu tusukkan atas nama mawar
agar semerbak kesakitan
kembali beraroma keabadian

lalu ceritakan padaku tentang kumbang
agar semua kemungkinan datang
mereguk dengung musim
mengitari kebimbangan

selagi taman tak lagi bermakna pertemuan
menerbangkan putik-putik kerinduan
dari sisa kata yang kian tumbuh menjalar
mengikat erat peristiwa lampau

sebab harapan kian layu
dihinggapi kupu-kupu
yang ingin menjadi kepompong
seiring lebah-lebah lupa sarang

2011

HEWAN PELIHARAAN

ayam
pagi yang remang
warna tanah selembab embun
rumah-rumah cacing bermunculan
subuh pun menghilang dicakar ayam

sapi
suara sapi terdengar pelan dari dalam langgar
nafasnya menghilang diambil Tuhan
lenguh-lenguh lainnya bermunculan
dari sisi ratapannya yang menghilang

kambing
tiada hentinya mengembek
rumput-rumput tak juga tumbuh
sebelum kuping tetangga mengering
gugur, terkubur tai kambing

kucing
ikan-ikan habis kau makan
malah kau kawin dengan tikus berseragam
tapi jangan kau buang di pasar
takut diinjak-injak harga barang

kelinci
tiada henti menggali tanah
sampai lupa alamat rumah
lalu kau menghilang
yang kau tinggal hanya jalan kelam

2012

TANAH KELAHIRAN

kerinduan tak kunjung terucapkan
untuk menuliskan segala yang datang
sebab aku berjalan bukan untuk sampai
hanya untuk mencari ruang kosong
mencari keberadaan yang telah hilang
kesungguhan yang tak juga sungguh
menjalani hidup dalam kertas kosong

apalagi yang ingin dipersembahkan
pada udara kampung halaman
yang berhembus serupa angan
setajam ujung pena
menancap perih pada tubuh impian

rintihan kubalas senyum
semua memancar dari keringat kata
kata-kata hanya teriakan kemarahan
yang tak kunjung menemukan jawaban
sampai airmata melukai kesendirian
ketika serpihan cecabang hujan
menumbuhkan masa lampau

menjadi bekas kepak angsa
menorehkan kedewasaan
yang semakin memanjang
yang semakin melebar
yang semakin kekar
pada waktunya menusuk pulau

kita berlarian dengan tubuh telanjang
memagut hujan di tengah halaman
memeluk dingin di pancuran
sampai tawa hanyut di selokan
sampai di sungai-sungai
bermain dengan gelombang
bersamamu di siang beku
semu suaramu
sendu mengingat itu
serupa gigil getir yang tak tentu
teriakan hati tak lagi lirih
kita saling pandang
menatap titik impian
seperti sepasang kucing
mengunyah kegetiran
kita membagi hasrat
kesiur angin kian lembut
sampai kerdip ingatan bermekaran
mengundang senyum paling ngun-ngun
sampai doa-doa tersangkut di langit kelam
takdir seperti pertemuan sewaktu datang bulan

2011

BALADA KISAH ANAK NEGERI

kisah anak-anak kami yang hanya bisa mengambil batu untuk melempar mulutmu di layar televisi   nyanyian itu tak juga merdu menyentuh kalbu y...